Minggu, 22 Maret 2009

Essential Oil Booming neh…


Saat ini banyak sekali orang yang sedang menjalankan bisnis minyak atsiri seperti minyak nilam (Pogostemon oil), Minyak pala (Nutmeg oil), minyak mawar (Rose oil), Minyak Melati (Jasmine oil), Minyak Jahe (Ginger oil), Minyak kemukus (cobeba oil), minyak ketumbar (Coriander oil), minyak jeruk purut (Kafir Lime oil), dll. Bisnis minyak atsiri ini tidak hanya untuk pasar lokal tetapi sudah mencapai pasar Internasional. Indonesia sangat prospek sekali untuk mengembangkan minyak atsiri ini dikarenakan indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki keaneragaman hayati terbanyak hanya saja belum dapat di pergunakan secara optimal. Indonesia yang memiliki bahan baku yang sangat banyak dan beragam perkembangan bisnis ini sudah tertingggal jauh oleh negara lain seperti India, China, negara-negara Eropa serta Amerika padahal di negara tersebut bahan baku sangat sulit sekali. Bagi para bisnisman baru yang berminat di bidang ini jangan bingung untuk melangkah. Di sini terdapat BALITTRO (Badan Penelitian Tanaman aromatik dan Bbat-obatan) yang melakukan penelitian-penelitian mengenai minyak atsiri serta mengembangan bibit tanaman agar menghasilkan rendemen minyak yang banyak seperti nilam, jahe, dll, serta ada DAI (Dewan Atsiri Indonesia) yang memberikan analisa pasar perdagangan baik lokal maupun Internasional dengan harga penjualan minyak atsiri yang selalu up to date.

Minyak atsiri tersebut memiliki kegunaan yang beraneka ragam seperti sebagai fragran (minyak nilam dan pala), parfum atau pengharum (minyak mawar dan melati), kesehatan (minyak jahe dan Ketumbar) dan masih banyak lagi kegunaannya. Cara produksi minyak atsiri ada 5 metode diantaranya :

1. Destilasi Air (Water destilation)

2. Destilasi Air-Uap/kukus (Water-Steam destilation)

3. Destilasi Uap (Steam destilation)

4. Enfluorasi

5. Ekstraksi

Bahan baku yang satu dengan yang lain menggunakan metode yang berbeda-beda misalnya untuk minyak Nilam menggunakan Destilasi Uap sedangkan minyak Mawar dan Melati cenderung menggunakan metode Enfluorasi dan Ekstraksi.

Untuk pasar minyak atsiri, saat ini sudah banyak eksportir yang mau membeli produk minyak dengan kondisi apapun asalkan tidak terlalu jauh sifat fisikokimianya dengan standar yang ada dengan harga yang cukup bervariasi. Semakin bagus karakteristik minyak yang kita produksi maka harganya akan lebih tinggi dari harga pasar apalagi memiliki standar internasional. Ada satu fenomena bisnis yang perlu kita pelajari. Bulan Januari yang lalau saya bertemu dengan seseorang yang memproduksi minyak mawar dan melati yang sudah eksis kurang lebih 8 tahun. Minyak yang diproduksi oleh mereka sudah dapat tembus ke pasar internasional seperti Amerika, Italia, Perancis dan Inggris dengan harga 3 kali lipat harga lokal. Pada saat saya memasarkan produk tersebut ke perusahaan-perusahan kosmetik besar di Indonesia seperti Martha Tilaar, anda tahu apa jawaban mereka? Ya betul mereka tidak membeli dari Indonesia tetapi Import langsung dan mereka menganggap produk kita merupakan produk sintesis (buatan menggunakan bahan kimia bukan bahan alam/bunga asli), so mereka tidak percaya produk dalam negeri. Pasti anda memikirkan hal yang aneh “koq bisa ya, padahal minyaknya sudah tembus pasar internasional??”. Setelah saya tanyakan kembali ke produsen minyak, dia menajawab dengan enteng “Anda tahu kalau Tasbih yang terbuat dari jelintri yang di jual di pasar-pasar Mekkah dan Madinah laku keras pada musim haji? Itu tasbih berasal dari kebumen dan hanya ganti label menjadi made in Mekkah bukan Kebumen lagi. Itu tidak berbeda dengan minyak kita. Kita jual ke Perancis, dari Perancis kembali lagi ke Indonesia.” Untuk itu ayo kita galakkan “GUNAKAN PRODUK DALAM NEGERI”.

Info lebih lanjut silahkan hubungi email w3lly_kim@yahoo.com atau aromakimia@gmail.com atau kontak ke no HP 085228986725

Tidak ada komentar:

Posting Komentar